Friday, November 30, 2012

mesin mio

wah mas fery mau posting lagi nie............  lebay'' hahahahahhaha
sobat....  Setelah mengikuti perkembangan bore up Mio hingga ramai diaplikasi dipakai balap, gerai variasi pun makin getol meluncurkan varian part bore up ke pasaran. Khususnya ukuran 58,5 mm dan 65 mm. Disini ada aturan yang menarik untuk diikuti, sehubungan dengan mekanis mesin skutik yang selalu bergasing di rpm tinggi.
“Paling mengkhawatirkan adalah sisa ketebalan liner yang ideal serta tinggi pantat silinder, agar tetap aman,
Sesuai dengan hasil riset dan data yang dikumpulkan, untuk bore up 65 mm ketebalan liner adalah 2,5 mm. Sedang yang bore up 58,5 mm perhitungan sisa ketebalan liner nya masih aman dalam hitungan 4,5 mm. Bagaimana dengan tinggi piston yang ideal ? Hal ini layaknya dijadikan prioritas saat proses bore up. Sebab tinggi piston juga berpengaruh dengan keamanan piston itu sendiri.
“Kalau terlalu tinggi dan lebih dari 38,5 mm, bisa jadi ketika piston berada di TMB (titik piston bawah) pantat piston akan membentur stang piston dan daun as kruk. Tinggi piston 37,5 mm berlaku buat bore up 65 mm
Sedang bore up 58,5 mm, tinggi pistonnya dapat memakai ukuran 38,5 mm. Sebab, makin kecilnya diameter piston, makin jauh pula jarak pantat piston dengan stang piston. Sehingga masih aman meskipun lebih tinggi dimensi pistonnya.
Beda dengan bagian tinggi pantat linernya, kalau bore up 65 mm tinggi pantat liner dapat diaplikasi dengan tinggi 21 mm. Dan yang bore up 58,5 mm, untuk tinggi pantat linernya bisa memakai 20 mm. “Kalau di bagian ini hanya mengikuti dimensi tinggi piston, untuk memastikan keseluruhan bodi piston mendapat pelumasan maksimal

mio dragspeed

terima kasih anda sudah mengunjungi kami

sobat apah anda kenal sama mas yogie keycot's....... itu lo joki handal dari k.ijo ....... tau gak sih mio itu mesin dari 110 cc menjadi 150 cc merupakan hal yang lumrah. Pasalnya pilihan pembengkakan kapasitas mesin lebih dari 35% itu, sudah banyak yang melakukan. Bukan hanya untuk kebutuhan balap, bore-up 150 cc juga dilakukan pada motor harian.
hebat nya mio power Mio bore-up yang jadi alat peraga terdongkrak sampai 9,00 dk/6.700 rpm dari standarnya yang 8,20 dk/6.700 rpm (torsi 9,91 Nm/6.200 rpm dari standar 9,53 Nm/5.700 rpm).


Power/RPM

Torsi/RPM

Standar

8,20 dk/ 6.700 rpm

9,53 nm / 5.700 rpm

CLD

8,35 dk / 6.200 rpm

10,22 nm / 5.700 rpm

Kawahara

8,68 dk / 6.300 rpm

10,18 nm / 5.900 rpm

TDR

9,00 dk / 6.700 rpm

9,91 nm / 6.200 rpm

alat dasar untuk olah raga

hay sahabat......... apakah anda bingung ingin olah raga dana sedikit mari kita olah raga agar jantung kita sehat...... dan kita bisa jadi kekar atau maco broo.... cukup anda bersepedah anda bisa maen sepedah fixie

apa kayak yogie keycot pembalap dari k.ijo......?????
contohnya yogik sehat dan dia siap terus waktu dalam iven...... nah sobat kita harus menirunya jangan pendam bakatnya ya.........

apa lagi kita olahraga pagi hari jalan'' naek sepedah bisa menyegar kan mata kita karena bisa lihat cewek baru bangun tidur die depan rumah...... dan jantung kita bisa dak dik duk dek dok itu jantung yang bagus bro.....
ok sobat apakah anada mau mencoba.......?????

Drag Bike Kediri


Surya 12 Drag Bikes Championship 2012 (S12DBC), adalah event Kejurnas yang dilaksanakan tiap akhir minggu tanpa henti. Sejak Gresik hingga Lumajang, hari Sabtu (30/6) lalu. Ini pun akan berlanjut lagi di Kediri dan Malang. Bahkan, akan ada tambahan event di Bandung bulan November. Jelas perlu kesiapan tersendiri bagi para pembalap dan tim. Bagaimana siasat mereka?

Karena gelaran yang diadakan di Jawa Timur, tentu akan menjadi salah satu beban tersendiri untuk pembalap dan tim dari Jateng, Jabar dan DKI. Kalau sudah bertemtu dengan akhir minggu, berarti sudah harus bersiap-siap, pergi-pulang dari Jatim, itu pun disela dengan waktu setting mesin. Otomatis biaya yang dikeluarkan bakal membengkak.

Tak hanya pembalap dan tim dari luar Jatim, bagaimana dengan pembalap dan tim asal Jatim? Ternyata, tidak serta merta mereka diuntungkan. “Hampir tiap minggu kita lembur. Apalagi kalau ada motor yang trouble. Belum lagi servis harian,” jelas Adi. S Tuyul, pembalap dari tim WPSMRROVS Speed dan Commsell Rovs Speed asuhan Rovino Senjaya.
Masih sedikit lega karena semua motor Rovino adalah 2 tak karena bermain di kelas 155 sport 2 tak dan 125 bebek 2 tak. “Motor 2 tak setting-nya gak seribet 4 tak,” imbuh Rovino.

Senada dengan Raditya, pemilik tim K-Ijo TopJaya Conk Nganjuk. Angga, sapaan akrab Raditya juga pontang-panting mengatur jadwal balap. “Kalau pagi sampai sore anak-anak yang urus motor balap. Selama beberapa minggu ini mereka fokus. Karena kan turun 6 motor. Untungnya bengkel tidak terima servis harian. Kalau ada pasti repot,” jelasnya saat mengikuti S12DBC Lumajang.

Selain susahnya manajemen waktu, Angga juga merasa ada pembengkakan biaya balap yang naik hingga 100 persen. “Mulai biaya untuk pendaftaran, kru untuk lembur juga uang makan waktu balap. Kalau even normal bawa 6 motor plus total dana tiap even 5 jutaan. Kalau ini sekali berangkat bisa 10 jutaan,” jelas Angga.

Itu untuk kondisi normal. Dalam arti semua motor dalam kondisi sehat. Kalau trouble dan ada penggantian spare parts bisa dipastikan bakal membengkak lagi. Hal ini memang perlu dipikirkan juga.

“Semua masih bisa terjadi. Pembalap yang bermental juara, didukung pacuan prima plus hoki, dia yang juara,”komentar Agung S. Unyil, dragbiker Sidoarjo saat disodorkan hitungan maniakmotor. Bahkan pada kelas bebek 4 tak tune up s/d 155 cc Yogi Keycot dan Tony Chupank terpaut satu poin saja.